Pages

Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Biografi Nur Sutan Iskandar



      Muhammad Nur atau yang lebih dikenal dengan nama Nur Sutan Iskandar lahir pada tanggal 3 November 1893 di Sungaibatang, Maninjau, Sumatera Barat. Adapun asal usul namanya menjadi Nur Sutan Iskandar bermula ketika ia menikahi Aminah. Oleh keluarga Aminah, ia diberi gelar Sutan Iskandar. Sejak itu, ia memakai gelar itu dipadukan dengan nama aslinya menjadi Nur Sutan Iskandar.
Dari perkawinannya dengan Aminah itu, Nur Sutan memperoleh lima anak:
1) Nursinah Supardo, lahir 5 Januari 1918, 2) Nursjiwan Iskandar, lahir 6 November 1921, 3) Nurma Zainal Abidin, lahir 24 Mei 1925, 4) Nurtinah Sudjarno lahir 7 Agustus 1928, dan 5) Nurbaity Iskandar, lahir 22 Maret 1933. Dua dari lima anaknya, yaitu Nursinah Supardo dan Nursjiwan Iskandar menuruni bakatnya, gemar dengan dunia karang mengarang.
Nur kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di tempat kelahirannya, Sungaibatang. Sungai Batang itu terletak di tepi Danau Maninjau. Keindahan kampungnya dan suasana kehidupan masyarakat di kampungnya itu, betul-betul diresapinya. Hal ini terlihat kemudian dari karya-karya yang dilahirkannya. Dallam Pengalaman Masa Kecil (1949), misalnya, Nur Sutan Iskandar dengan jelas bercerita tentang keindahan kampung halamannya dan suka duka masa kecilnya. Sementara itu, dalam Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), dan Karena Menua (1932), ia banyak bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat.
Nur Sutan Iskandar menamatkan pendidikan sekolah rakyatnya pada tahun 1909. Setahun berikutnya, ia diangkat menjadi guru bantu di sekolah yang sama. Setelah itu, ia pindah ke kota Padang. Selanjutnya tahun 1919, ia meninggalkan kota Padang dan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, ia bekerja di Balai Pustaka mengoreksi naskah-naskah karangan yang masuk ke redaksi. Ia mendapat tugas itu dari Sutan Muhammad Zein, Pemimpin Balai Pustaka saat itu. Di Balai Pustaka itulah, ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai  dunia karang mengarang dan juga mulai terasah bakatnya ke arah itu.
 Ketika berkesempatan  mengikuti Kongres Pemuda di Surabaya (1930-an), ia berkenalan dengan Dokter Sutomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Oleh Dr. Sutomo, ia diajak  berkeliling kota Surabaya. Hampir semua tempat di sana mereka kunjungi, tidak terkecuali tempat pelacuran. Bakat menulisnya yang sudah tumbuh, mulai memainkan peran. Pengalaman di tempat pelacuran itu, kemudian dituangkannya menjadi karangan yang diberi judul Neraka Dunia (1937).
Meskipun hanya berijazah sekolah dasar, Nur Sutan Iskandar dikenal sebagai orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sambil bekerja ia terus berusaha untuk menambah pengetahuannya, baik secara formal maupun nonformal. Pada tahun 1921, ia dinyatakan lulus dari Kleinambtenaar ‘pegawai kecil’ di Jakarta dan tahun 1924, ia juga mendapat ijazah dari Gemeentelijkburen Cursus ‘Kursus Pegawai Pamongpraja’ di Jakarta. Sementara itu, ia juga  terus memperdalam kemampuan berbahasa Belandanya.
Berkat ketekunannya, ia diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925—1942) dan  Kepala Pengarang Balai Pustaka (1942—1945). Pada saat-saat itulah, kekereatifannya sebagai penulis sangat berkembang. Nur Sutan Iskandar termasuk penulis yang produktif. Tidak saja menulis karya asli, ia juga menulis karya saduran dan terjemahan. Hal itu dimungkinkan karena penguasaan bahasa asingnya cukup baik.
Tokoh Angkatan Balai Pustaka ini (seangkatan dengan Merari Siregar, Marah Rusli, dan Hamka) menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta, pada usia 82 tahun, tepatnya tanggal 28 November 1975.

Karya Nur Sutan Iskandar
Sebagai pengarang, Nur Sutan Iskandar tergolong produktif. Selama hidupnya, ia berhasil menulis puluhan buku, baik karya asli, saduran, maupun terjemahan. Berikut ini adalah daftar karya-karyanya yang sudah diterbitkan.
a)   Karya Asli
(1)    Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923)
(2)   Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)
(3)   Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
(4)   Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929)
(5)   Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)
(6)   Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
(7)   Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
(8)   Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934)
(9)   Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
(10) Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937)
(11) Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941)
(12) Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
(13) Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944)
(14) Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
(15) Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
(16) Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949)
(17) Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang)
(18) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II
(Jakarta: JB Wolters, 1952)
(19) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952)
(20) Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946)
(21) Sesalanm Kawin (t.t.)


b)   Karya Saduran
           (1)  Si Bakhil (Moliere. Jakarta: JB Wolters, 1926)
(2) Pelik-pelik Pendidikan I--IV (Jan Ligthrta. Jakarta: JB
Wolters, 1952).

c. Karya Terjemahan
(1) Tiga Orang Panglima Perang (Alexander Dumas: Balal Pustaka, 1922)
(2) Dua Puluh Tahun Kemudian (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka, 1925)
(3) Graaf de Monte Cristo I--IV (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka, 1925)
(4) Belut Kena Ranjau I--Il (Banonesse Orczy. Jakarta: JB Wolters, 1951)
(5) Anjing Setan (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
(6) Anak Perawan di Jalan Sunyi (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
(7) Gudang Intan Nabi Sulaeman (H. Rider Haggard. Jakarta: Balai Pustaka, 1929)
(8) Kasih Beramuk dalam Hati (Beatrice Harraden. Jakarta: Balai Pustaka, 1931)
(9) Memperebutkan Pusaka Lama (Edouard Kijzer. Jakarta: Balai Pustaka 1932) V
(10) Iman dan Pengasihan I--IV (H. Sienkiewicz. Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
(11) Permainan Kasti (F.H.A. Claesen. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)
(12) Perjalanan Ahmad ke Eropa (N.K. Bieger. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)
(13) Sayur-Sayuran Negeri Kita (J.J. Ochse. Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
(14) Pablo (Lidow. Jakarta: Penerbit dan Balai Buku Indonesia, 1948)
(15) Asal Binatang (Giane Anguissola. Jakarta: t.p., 1948)
(16) Si Buyung (S. Franke. Jakarta: t.p., 1949) V
(17) Bersiap (C. Wilkeshuis. Jakarta: Noorhoffkolff, 1949)
(18) Pengajaran di Sweden (Jan Lighthart. Jakarta: JB Wolters,
(19) Sepanjang Garis Kehidupan (R. Kasimier. Jakarta: JB Wolters,1951)
(20) Medan Perdagangan (K. Gritter. Jakarta: JB Wolters, 1951)
(21) Edison Sripustaka (K. Gritter. Jakarta: Balai   Pustaka, t.t.)
(22) Maw Volksalmanak (K. Gritter. Jakarta: Balai Pustaka, t.t.)

Biografi Chairil Anwar (1922-1945)

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”